Fenomenologi Pergantian Tahun
Oleh : Zelfia (Dosen Ilmu Komunikasi UMI)
Sejak sekitar 4.000 tahun lalu atau sejak 2.000 tahun sebelum masehi (SM). Ketika bangsa babilonia melakukan tradisi perayaan tahun baru. Sudah sejak saat itu juga fenomena malam menjelang pergantian tahun, kota terang benderang dengan lampu-lampu berwarna yang bersinar di sepanjang jalan. Orang-orang keluar dari rumah mereka dengan semangat tinggi, membawa perasaan kegembiraan. Sebuah fenomena luar biasa terjadi di seluruh penjuru kota, di mana orang-orang dari berbagai latar belakang berkumpul untuk merayakan akhir tahun.
Di taman-taman kota, panggung-panggung dipersiapkan untuk pertunjukan dan hiburan. Restoran dan kafe dipenuhi dengan pengunjung yang menikmati makan malam spesial tahun baru memberikan dekorasi khusus, menciptakan atmosfer dengan menu spesial hidangan khas perayaan, menyatukan orang-orang dalam kenikmatan bersama. Ditempat yang berbeda di tepi laut atau sungai, kerumunan orang berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan kembang api yang spektakuler. Cahaya dan warna yang mencolok membelah langit malam, menciptakan gambaran yang menakjubkan. Suara ledakan dan sorak-sorai penonton menyatu dalam harmoni kebahagiaan, menghitung mundur waktu.
Bagi sebagian orang, pergantian tahun adalah panggung untuk pesta dan kegembiraan. Pesta malam tahun baru menjadi arena kegembiraan yang penuh semangat, dengan kembang api yang menerangi langit sebagai simbol awal yang gemilang. Beberapa orang memilih menyambut tahun baru dengan suasana yang lebih tenang, bersama keluarga atau teman-teman dekat. Di rumah-rumah, mungkin terdengar tawa riang anak-anak yang menantikan momen berharga untuk melihat kembang api dari jendela.
Di sisi lain, ada mereka yang memilih menjadikan pergantian tahun sebagai waktu refleksi mendalam. Mereka menarik diri ke dalam kesunyian, merenung pada pencapaian dan kegagalan tahun sebelumnya. Resolusi tahun baru bukan sekadar daftar harapan, tetapi serangkaian tekad baru untuk mengembangkan diri, belajar dari pengalaman, dan tumbuh sebagai individu yang lebih baik.
Pergantian tahun merupakan titik balik waktu yang disambut dengan berbagai perasaan dan ekspresi dari setiap individu. Setiap orang memiliki cara pribadi dan khas dalam melewati momen ini, menciptakan narasi hidup untuk setiap tahun yang berlalu, kemudian membangun kembali esensi kesadaran atas apa yang telah dilakukan. Cara mereka melewati pergantian tahun menjadi penilaian atas seberapa besar arti yang diberikan pada waktunya yang telah berlalu. Husserl mengungkapkan bahwa ada relasi antara kesadaran terhadap sebuah aktifitas (objek) dengan makna dari apa yang dia tinggalkan.
Fenomenologi Husserlian adalah tentang esensi dari kesadaran. Yang pertama, setiap pengalaman manusia sebenarnya adalah satu ekspresi dari kesadaran. Seseorang mengalami sesuatu. Ia sadar akan pengalamannya sendiri yang memang bersifat subyektif. Dan yang kedua, setiap bentuk kesadaran selalu merupakan kesadaran akan sesuatu. Ketika berpikir tentang Kesuksesan, anda membentuk gambaran tentang sukses di dalam pikiran anda. Ketika melihat sebuah mobil, anda membentuk gambaran tentang mobil di dalam pikiran anda. Inilah yang disebut Husserl sebagai intensionalitas (intentionality), yakni bahwa kesadaran selalu merupakan kesadaran akan sesuatu.
Tindakan seseorang dikatakan intensional, jika tindakan itu dilakukan dengan tujuan yang jelas. Namun di dalam filsafat Husserl, konsep intensionalitas memiliki makna yang lebih dalam. Intensionalitas tidak hanya terkait dengan tujuan dari tindakan manusia, tetapi juga merupakan karakter dasar dari pikiran itu sendiri. Pikiran tidak pernah pikiran itu sendiri, melainkan selalu merupakan pikiran atas sesuatu. Pikiran selalu memiliki obyek. Hal yang sama berlaku untuk kesadaran. Intensionalitas adalah keterarahan kesadaran (directedness of consciousness). Dan intensionalitas juga merupakan keterarahan tindakan, yakni tindakan yang bertujuan pada satu obyek.
Namun Husserl juga melihat beberapa pengalaman konkret manusia yang tidak mengandaikan intensionalitas, seperti ketika kita merasa mual ataupun pusing. Kedua pengalaman itu bukanlah pengalaman tentang suatu obyek yang konkret. Namun pengalaman itu sangatlah jarang. Mayoritas pengalaman manusia melibatkan kesadaran, dan kesadaran selalu merupakan kesadaran atas sesuatu. Husserl menyebut setiap proses kesadaran yang terarah pada sesuatu ini sebagai tindakan (act). Dan setiap tindakan manusia selalu berada di dalam kerangka kebiasaan (habits), termasuk di dalamnya gerak tubuh dan cara berpikir.
Kesadaran bahwa manusia selalu terarah pada dunia, dan keterarahan ini melibatkan suatu horison makna yang disebut sebagai dunia kehidupan. Di dalam konteks itulah pemahaman tentang manusia dan kesadaran bisa ditemukan. Maka, Semoga pergantian tahun tidak saja berlalu sebagia sebuah kebiasaan atau euphoria semata. Dan Semoga Allah Rabb Semesta senantiasa menganugrahkan kita umur yang berkah dan bermanfaat. Salam Komunikasi